Advices
| Meminta Maaf, Kenapa Harus Gengsi? | |

Setelah bertengkar banyak pasangan yang malas atau gengsi meminta maaf. Padahal maaf dapat membuat kehidupan cinta menjadi lebih romantis. Ketika emosi memuncak, terkadang kita tidak bisa lagi mengontrol kata-kata yang terlontar dari mulut.
Celakanya, sebagian dari kata-kata yang terlontar itu kerap menyakiti hati pasangan. Tak hanya kata-kata, kadang sikap emosional itupun dibarengi dengan tindak kekerasan. Jika lama-lama tidak mampu mengontrol diri, hal ini pasti menimbulkan perselisihan dan memicu pertengkaran.
Sayangnya pula, penyesalan sering terlambat datang. Meski emosi sudah mereda kita sering saling bertahan untuk tidak meminta maaf. Kita menunggu pasangan yang meminta maaf terlebih dulu, demikian pula sebaliknya. Jika ini yang terjadi, rasanya tidak perlu menunggu sampai Lebaran tahun depan tiba untuk mengucapkan kata maaf yang tulus dari hati. Menurut para ahli, saling memaafkan sangat baik untuk kesehatan tubuh sekaligus mental. Semua itu tentunya juga sangat tergantung, apakah kita atau pasangan yang sulit meminta atau memberikan maaf.
Berdasarkan sebuah studi, kaum perempuan memang memiliki ketahanan untuk untuk menyimpan rasa sakit hati terhadap sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan. Banyak pula yang tidak bisa begitu saja melupakan segala sesuatu yang menyakitkan, apalagi melupakan kesalahan fatal orang yang pernah menorehkan luka atau berkhianat. Padahal, menurut hasil studi, orang yang tak bisa memberi maaf rata-rata tekanan darah dan ketegangan otot di dahinya lebih tinggi, ketimbang orang yang mau memaafkan orang lain.
SEGERA MAAFKAN Tak dapat dipungkiri, terkadang hati memang susah untuk diajak kompromi, apalagi jika pasangan melakukan tindakan mengesalkan bahkan menyayat hati. Namun kembali lagi, sampai kapan akan menyimpan kekesalan dan sakit hati terhadap pasangan. Ingat, semakin kita membiarkannya berlarut-larut, kita akan kehilangan kepercayaan, keyakinan.
Banyak cara untuk meminimalisir rasa dendam dan melapangkan dada untuk memafkan orang lain. Segera lakukanlah introspeksi diri dan tiliklah masalah yang dihadapi dengan kepala dingin. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah menuangkan kemarahan dan mengekspresikan perasaan ke dalam buku harian atau mencoretkan segala kekesalan di atas kertas. Berusahalah untuk mengendalikan emosi agar tidak "meledak" di depan pasangan.
Kita juga dapat bercerita atau berdiskusi dengan teman dekat atau orang yang kita rasa cukup bijaksana, sejauh itu tidak membongkar aib pasangan dan menceritakan masalah terlalu dalam. Ingatlah pula, seburuk apapun pasangan di mata kita, jangan sampai menjelekjelekkannya di depan teman apalagi saudara atau orangtua. Dengan menuangkan perasaan, dan mungkin mendapat masukan dari orang yang dekat dengan kita…
